Penciptaan
Manusia Menurut Perspektif Islam
Muhammad Efan, Ismail Akbar Brahma
Sistem
informasi, Universitas Gunadarma
efannafe704@gmail.com
Pendahuluan
Manusia
adalah makhluk yang unik di antara ciptaan Allah SWT. Sebagai satu-satunya
makhluk yang diberikan akal, manusia memiliki tanggung jawab dan tugas yang
luar biasa di bumi. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, memahami hakikat
manusia adalah kunci untuk memahami peran dan tujuan kita dalam kehidupan.
Artikel ini akan mengupas berbagai aspek tentang manusia dari sudut pandang
Islam, mencakup penciptaan, peran sebagai khalifah, fitrah dan akhlak, hubungan
dengan Allah dan sesama, pentingnya ilmu, serta konsep dosa, taubat, dan
kehidupan setelah mati.
1.
Penciptaan Manusia
Di
dalam Al Quran proses penciptaan manusia terjadi dengan dua tahapan yang
berbeda. Tahapan pertama adalah tahapan primordial dan tahapan kedua adalah
tahapan biologi.
A. Tahapan Primordial
Tahapan
Pertama adalah saat manusia pertama diciptakan pertama kali dari saripati tanah
dan diberikan ruh hingga bentuk yang seindah-indahnya. Hal ini dijelaskan dalam
beberapa ayat berikut :
- QS Al
An’am (6) : 2
“Dialah
Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu),
dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah
mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).”
- QS
Shaad (38) : 71
“(Ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah.”
- QS
Al-Hijr (15) : 28
“Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk”.
Di
dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia
dari bahan dasar tanah yang kemudian dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya
dibentuk rupa dan beragam fungsi dari fisik yang ada dalam tubuh manusia. Hal
ini tentunya dilakukan Allah pada manusia pertama yaitu Nabi Adam AS. Hingga setelah
itu ada proses penciptaan manusia berupa hukum biologis.
B.
Tahapan
Biologi
Tahapan biologi adalah sunnatullah atau hukum Allah
melalui proses biologis yang terdapat dalam fisik atau tubuh manusia beserta
segala perangkatnya. Proses biologi ini membedakan hakikat manusia menurut islam dengan makhluk lainnya yang
tidak memiliki ruh dan akal untuk mengambil keputusan saat dewasanya. Proses
tersebut adalah sebagai berikut :
- Nuthfah
(inti sari tanah yang dijadikan air mani)
- Rahim
(tersimpan dalam tempat yang kokoh)
- Alaqah
(darah yang beku menggantung di rahim)
- Mudgah
(Segumpal daging dan dibalut dengan tulang belulang)
- Ditiupkan
ruh
Proses Setetes Mani
dipancarkan
“Apakah
manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik
mani yang dipancarkan?” (QS
Al Qiyamah:36-37)
Di dalam ayat tersebut
menunjukkan bahwa proses penciptaan manusia berawal dari air mani atau sperma
yang terpancar. Namun hanya setitik yang menjadi manusia. Sehingga Allah
memberikan nikmat hidup melalui proses tersebut.
Sebelum
adanya proses pembuahan dalam rahim wanita, ada kurang lebih 250 juta sperma
terpancar dari laki-laki pada satu waktu. Dari 250 juta sperma yang terpancar
hanya ada satu yang bisa bertemu dengan sel telur wanita atau ibu melalui
saluran reproduksi wanita.
“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan
sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian
Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (QS 32:7-8).
Segumpal Darah Yang
Melekat di Rahim
“Dia
telah menciptakan manusia dengan segumpal darah” (QS Al
Alaq :
2)
Setelah melalui proses selama 40
hari, maka terjadilah gumpalan darah yang ada di dalam rahim ibu. Proses ini
berawal dari sperma yang bertemu dengan sel telur, menjadi sel tunggal yang
dikenal sebagai zigot. Setelah munculnya zigot, ia akan berkembang biak dengan
membelah diri menjadi gumpalan daging.
Zigot
melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di tanah. Zigot
mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu sebagai proses
pertumbuhannya. Saat zigot yang tumbuh ini ada dalam tubuh ibu maka Allah SWT
menggunakan istilah alaqah yang artinya sesuatu yang menempel pada suatu
tempat. Secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada
tubuh untuk menghisap darah.
Pembungkusan Tulang oleh
Otot
“Kemudian
air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang
Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)
Menurut para ahli embriologi,
tulang dan otot terbentuk secara bersamaan. Penelitian berbagai ilmuan
menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu sama persis sebagaimana yang
disampaikan di dalam Al Quran. Pada awalnya jaringan tulang rawan embrio mulai
mengeras. Setelahnya, sel-sel otot yang terpilih di jaringan sekitar tulang
bergabung membungkus tulang-tulang ini.
2.
Tujuan Manusia Diciptakan
Allah
SWT menciptakan segala sesuatu bukan tanpa sebab. Artinya, ada faktor yang
melatarbelakangi mengapa Allah menciptakan suatu hal. Allah SWT. Berfirman yang
artinya:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa
Kami menciptakan kamu hanya main-main (tanpa ada maksud), kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami?”(QS. Al-Mukminun ayat 115).
Menukil Jurnal IAIN Batusangkar yang berjudul
"Tujuan Penciptaan Manusia dan Nilai Edukasinya" karya Inong
Satriadi, ada beberapa ayat di dalam Al-Qur'an yang menjelaskan maksud dari
Allah SWT menciptakan manusia.
· Ibadah
Allah
SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ini adalah alasan yang
paling utama yang perlu kita pahami. Penjelasan
tersebut dapat ditemukan dalam surat Az-Zariyat ayat 56, Allah SWT berfirman
yang artinya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
· Sebagai
Khalifah
Selain
ibadah, Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi khilafah di muka bumi.
Allah SWT ingin manusia mengurusnya dengan kekuatan akal yang dimiliki.
Hal itu tercantum dalam surat al-An'am ayat 165,
Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Dan Dialah yang menjadikan kamu
penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian dari kamu atas sebagian
(yang lain) dengan beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang
diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat dalam memberi siksaan
dan Dia sungguh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
· Agar
Tahu kekuasaan Allah
Manusia
diciptakan oleh Allah agar mereka dapat menyadari kekuasaan-Nya. Allah SWT
ingin menunjukkan bahwa seluruh alam semesta, termasuk bumi, tata surya, dan
segala isinya, terbentuk berdasarkan kehendak-Nya.
Penjelasan lebih rinci dapat ditemukan dalam
Al-Quran surat at-Talaq ayat 12 yang artinya :
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan
demikian pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, sehingga kalian dapat
memahami bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah
ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”
3.
Menjadi Khalifah di Muka Bumi
Kata
khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam al-qur‟an yaitu pertama
dalam surah Al-Baqarah ayat 30 yang artinya :
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Pengertian
khalifah dalam ayat diatas, menurut ar- razi yang dikutip oleh Umar shihab ada
dua: pertama Adam sebagai pengganti jin untuk menempati dunia, setelah jin
ditiadakan sebagai penghuni bumi terdahulu. Kedua Adam adalah penguasa Bumi,
sebagai pengganti Allah dalam menegakkan hukum-hukumnya diatas bumi. Muhammad
Baqir al-Sadar sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab mengemukakan bahawa
kekhalifahan yang terkandung dalam ayat diatas mempunyai tiga unsur yang saing
terkait ditambahkan unsur keempat yang berada diluar, namun dapat menentukan
arti kekhalifahan dalam pandangan al-qur‟an. Ketiga unsur tersebut yaitu:
1.
Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah.
2.
Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah sebagai ardh.
3.
Hubungan antara manusia dan alam dan segala isinya termasuk manusia
4.
Yang berada diluar digambarkan dengan kata inni> ja‟il/inna>
ja‟alnaka> khalifat, yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah SWT.
Alasan
menjadikan manusia sebagai Khalifah adalah Manusia mahkluk sentral di Planet
ini.selain penciptaannya yang paling sempurna dan seimbang, mahkluk-mahkluk
lain yang ada seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk
kepentingannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hak pemakmuran dan
pengelolaan bumi beserta isinya diberikan kepada manusia sebagai konsekuensi
logis atas kesediaannya memangku amanah Allah.
Alquran
dalam ungkapannya yang sederhana namun tegas menekankan individualitas dan
uniknya manusia, dan mempunyai pandangan yang pasti tentang peran dan nasib
manusia sebagai suatu kesatuan hidup. Adalah akibat dari pandangan bahwa
manusia adalah suatu individualitas yang unik yang menjadikan mustahil bagi
indvidu itu untuk menangung beban orang lain, dan ia hanya berhak menerima buah
atau akibat dari perbuatannya sendiri.
Sebagai
khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk
kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk
manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan;
menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan
keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia.
Sebagai
hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki
fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi.
Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang
sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat
memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia,
disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah
dibanding binatang.
Penutup
Konsep
manusia dalam Islam adalah tema fundamental yang mencakup berbagai aspek
esensial dalam kehidupan seorang Muslim. Manusia diciptakan dari tanah,
kemudian diberi ruh oleh Allah, menjadikannya makhluk yang unik dengan dimensi
jasmani dan rohani. Penciptaan manusia ini bukanlah tanpa tujuan, melainkan
memiliki maksud yang mendalam dan mulia.
Tujuan
utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana
ditegaskan dalam Al-Qur'an (Surat Adz-Dzariyat: 56), “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Ibadah dalam Islam tidak
terbatas pada ritual semata, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan yang
dijalani dengan niat untuk mengabdi kepada Allah. Ini berarti bahwa setiap
tindakan yang dilakukan dengan niat yang benar dapat menjadi bentuk ibadah,
memberikan makna dan tujuan yang mendalam dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Selain
tujuan utama tersebut, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di muka
bumi. Tugas ini mengandung tanggung jawab yang besar untuk memelihara dan
mengelola bumi serta segala isinya dengan bijaksana. Sebagai khalifah, manusia
harus menjalankan peran ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, menjaga
keseimbangan alam, menegakkan keadilan, dan memastikan kesejahteraan seluruh
makhluk. Tanggung jawab ini menuntut manusia untuk senantiasa berpegang pada
prinsip-prinsip akhlak yang mulia, seperti kejujuran, keadilan, dan kasih
sayang.
Pemahaman
yang mendalam tentang konsep penciptaan, tujuan hidup, dan peran sebagai
khalifah memberikan landasan yang kuat bagi umat Islam dalam menjalani
kehidupan yang bermakna dan bermanfaat. Pendidikan Agama Islam berperan penting
dalam menanamkan nilai-nilai ini sejak dini, membentuk individu yang berakhlak
mulia dan siap menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah dan khalifah
di bumi.
Dalam
kehidupan modern, tantangan yang dihadapi oleh umat Islam semakin kompleks.
Namun, dengan berpegang pada ajaran Islam yang benar dan memahami konsep
manusia yang diajarkan dalam agama ini, umat Islam dapat menghadapi tantangan
tersebut dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai Islam
memberikan panduan yang jelas dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara
kebutuhan duniawi dan spiritual, serta mendorong manusia untuk berkontribusi
positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Dengan
demikian, pemahaman tentang penciptaan manusia, tujuan hidup, dan peran sebagai
khalifah bukan hanya memberikan panduan bagi kehidupan individu, tetapi juga
berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang adil dan berkelanjutan. Artikel
ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang
konsep manusia dalam Islam, serta menjadi referensi yang berguna dalam
mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui
pemahaman dan pengamalan yang tepat, umat Islam dapat mencapai kehidupan yang
lebih bermakna dan selaras dengan tujuan penciptaan mereka sebagai manusia.
Refrensi :
Redaksi
dalamislam. 2024. Proses Penciptaan Manusia menurut Islam. www.dalamislam.com
Diakses pada tanggal 02 Juni 2024 melalui https://dalamislam.com/info-islami/proses-penciptaan-manusia
Berita
Update. 2021. Tujuan Allah Menciptakan Manusia Menurut Al – Quran. www.kumparan.com
Diakses pada tanggal 02 Juni 2024 melalui https://kumparan.com/berita-update/tujuan-allah-menciptakan-manusia-menurut-al-quran-1vhKJJLVYLR/full
Hanif
Hawari. 2023. Tujuan Allah Menciptakan Manusia, Diceritakan dalam Al – Quran.
www.detik.com
Diakses pada tanggal 02 Juni 2024 melalui https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7106062/tujuan-allah-menciptakan-manusia-diceritakan-dalam-al-quran
Farid,
M. Alwi. "Manusia sebagai Khalifah dalam Perspektif Islam." Jurnal
Al-Mawarid, vol. 17, no. 1, 2018, pp. 1-15. Neliti, https://media.neliti.com/media/publications/285121-manusia-sebagai-khalifah-dalam-persfekti-a463de5e.pdf.
Diakses pada tanggal 02 Juni 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar