Senin, 03 Juni 2024

Penciptaan Manusia Menurut Perspektif Islam

Penciptaan Manusia Menurut Perspektif Islam

Muhammad Efan, Ismail Akbar Brahma

Sistem informasi, Universitas Gunadarma

efannafe704@gmail.com

 

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang unik di antara ciptaan Allah SWT. Sebagai satu-satunya makhluk yang diberikan akal, manusia memiliki tanggung jawab dan tugas yang luar biasa di bumi. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, memahami hakikat manusia adalah kunci untuk memahami peran dan tujuan kita dalam kehidupan. Artikel ini akan mengupas berbagai aspek tentang manusia dari sudut pandang Islam, mencakup penciptaan, peran sebagai khalifah, fitrah dan akhlak, hubungan dengan Allah dan sesama, pentingnya ilmu, serta konsep dosa, taubat, dan kehidupan setelah mati.

 

1.     Penciptaan Manusia

Di dalam Al Quran proses penciptaan manusia terjadi dengan dua tahapan yang berbeda. Tahapan pertama adalah tahapan primordial dan tahapan kedua adalah tahapan biologi.

A.  Tahapan Primordial

Tahapan Pertama adalah saat manusia pertama diciptakan pertama kali dari saripati tanah dan diberikan ruh hingga bentuk yang seindah-indahnya. Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat berikut :

  • QS Al An’am (6) : 2

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).”

  • QS Shaad (38) : 71

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”

  • QS Al-Hijr (15) : 28

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.

 

Di dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari bahan dasar tanah yang kemudian dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya dibentuk rupa dan beragam fungsi dari fisik yang ada dalam tubuh manusia. Hal ini tentunya dilakukan Allah pada manusia pertama yaitu Nabi Adam AS. Hingga setelah itu ada proses penciptaan manusia berupa hukum biologis.

B.       Tahapan Biologi

Tahapan biologi adalah sunnatullah atau hukum Allah melalui proses biologis yang terdapat dalam fisik atau tubuh manusia beserta segala perangkatnya. Proses biologi ini membedakan hakikat manusia menurut islam dengan makhluk lainnya yang tidak memiliki ruh dan akal untuk mengambil keputusan saat dewasanya. Proses tersebut adalah sebagai berikut :

  • Nuthfah (inti sari tanah yang dijadikan air mani)
  • Rahim (tersimpan dalam tempat yang kokoh)
  • Alaqah (darah yang beku menggantung di rahim)
  • Mudgah (Segumpal daging dan dibalut dengan tulang belulang)
  • Ditiupkan ruh

Proses  Setetes Mani dipancarkan

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus?  Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37)

Di dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa proses penciptaan manusia berawal dari air mani atau sperma yang terpancar. Namun hanya setitik yang menjadi manusia. Sehingga Allah memberikan nikmat hidup melalui proses tersebut.

Sebelum adanya proses pembuahan dalam rahim wanita, ada kurang lebih 250 juta sperma terpancar dari laki-laki pada satu waktu. Dari 250 juta sperma yang terpancar hanya ada satu yang bisa bertemu dengan sel telur wanita atau ibu melalui saluran reproduksi wanita.

“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat.  Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (QS 32:7-8).

 Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

            “Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah” (QS Al Alaq : 2) 

Setelah melalui proses selama 40 hari, maka terjadilah gumpalan darah yang ada di dalam rahim ibu. Proses ini berawal dari sperma yang bertemu dengan sel telur, menjadi sel tunggal yang dikenal sebagai zigot. Setelah munculnya zigot, ia akan berkembang biak dengan membelah diri menjadi gumpalan daging.

Zigot melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di tanah. Zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu sebagai proses pertumbuhannya. Saat zigot yang tumbuh ini ada dalam tubuh ibu maka Allah SWT menggunakan istilah alaqah yang artinya sesuatu yang menempel pada suatu tempat. Secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

 Pembungkusan Tulang oleh Otot

            “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.  Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.  Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)

Menurut para ahli embriologi, tulang dan otot terbentuk secara bersamaan. Penelitian berbagai ilmuan menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu sama persis sebagaimana yang disampaikan di dalam Al Quran. Pada awalnya jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Setelahnya, sel-sel otot yang terpilih di jaringan sekitar tulang bergabung membungkus tulang-tulang ini.

 

2.    Tujuan Manusia Diciptakan

Allah SWT menciptakan segala sesuatu bukan tanpa sebab. Artinya, ada faktor yang melatarbelakangi mengapa Allah menciptakan suatu hal. Allah SWT. Berfirman yang artinya:

“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu hanya main-main (tanpa ada maksud), kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”(QS. Al-Mukminun ayat 115).

Menukil Jurnal IAIN Batusangkar yang berjudul "Tujuan Penciptaan Manusia dan Nilai Edukasinya" karya Inong Satriadi, ada beberapa ayat di dalam Al-Qur'an yang menjelaskan maksud dari Allah SWT menciptakan manusia.

·       Ibadah

Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ini adalah alasan yang paling utama yang perlu kita pahami. Penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam surat Az-Zariyat ayat 56, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

·       Sebagai Khalifah

Selain ibadah, Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi khilafah di muka bumi. Allah SWT ingin manusia mengurusnya dengan kekuatan akal yang dimiliki.

Hal itu tercantum dalam surat al-An'am ayat 165, Allah SWT berfirman, yang artinya :

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian dari kamu atas sebagian (yang lain) dengan beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat dalam memberi siksaan dan Dia sungguh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

·       Agar Tahu kekuasaan Allah

Manusia diciptakan oleh Allah agar mereka dapat menyadari kekuasaan-Nya. Allah SWT ingin menunjukkan bahwa seluruh alam semesta, termasuk bumi, tata surya, dan segala isinya, terbentuk berdasarkan kehendak-Nya.

Penjelasan lebih rinci dapat ditemukan dalam Al-Quran surat at-Talaq ayat 12 yang artinya :

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan demikian pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, sehingga kalian dapat memahami bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

 

 

 

 

3.    Menjadi Khalifah di Muka Bumi

Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam al-qur‟an yaitu pertama dalam surah Al-Baqarah ayat 30 yang artinya :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Pengertian khalifah dalam ayat diatas, menurut ar- razi yang dikutip oleh Umar shihab ada dua: pertama Adam sebagai pengganti jin untuk menempati dunia, setelah jin ditiadakan sebagai penghuni bumi terdahulu. Kedua Adam adalah penguasa Bumi, sebagai pengganti Allah dalam menegakkan hukum-hukumnya diatas bumi. Muhammad Baqir al-Sadar sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab mengemukakan bahawa kekhalifahan yang terkandung dalam ayat diatas mempunyai tiga unsur yang saing terkait ditambahkan unsur keempat yang berada diluar, namun dapat menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan al-qur‟an. Ketiga unsur tersebut yaitu:

1. Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah.

2. Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah sebagai ardh.

3. Hubungan antara manusia dan alam dan segala isinya termasuk manusia

4. Yang berada diluar digambarkan dengan kata inni> ja‟il/inna> ja‟alnaka> khalifat, yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah SWT.

 

Alasan menjadikan manusia sebagai Khalifah adalah Manusia mahkluk sentral di Planet ini.selain penciptaannya yang paling sempurna dan seimbang, mahkluk-mahkluk lain yang ada seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk kepentingannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hak pemakmuran dan pengelolaan bumi beserta isinya diberikan kepada manusia sebagai konsekuensi logis atas kesediaannya memangku amanah Allah.

Alquran dalam ungkapannya yang sederhana namun tegas menekankan individualitas dan uniknya manusia, dan mempunyai pandangan yang pasti tentang peran dan nasib manusia sebagai suatu kesatuan hidup. Adalah akibat dari pandangan bahwa manusia adalah suatu individualitas yang unik yang menjadikan mustahil bagi indvidu itu untuk menangung beban orang lain, dan ia hanya berhak menerima buah atau akibat dari perbuatannya sendiri.

Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia.

Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.

 

Penutup

Konsep manusia dalam Islam adalah tema fundamental yang mencakup berbagai aspek esensial dalam kehidupan seorang Muslim. Manusia diciptakan dari tanah, kemudian diberi ruh oleh Allah, menjadikannya makhluk yang unik dengan dimensi jasmani dan rohani. Penciptaan manusia ini bukanlah tanpa tujuan, melainkan memiliki maksud yang mendalam dan mulia.

Tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an (Surat Adz-Dzariyat: 56), “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Ibadah dalam Islam tidak terbatas pada ritual semata, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan yang dijalani dengan niat untuk mengabdi kepada Allah. Ini berarti bahwa setiap tindakan yang dilakukan dengan niat yang benar dapat menjadi bentuk ibadah, memberikan makna dan tujuan yang mendalam dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Selain tujuan utama tersebut, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Tugas ini mengandung tanggung jawab yang besar untuk memelihara dan mengelola bumi serta segala isinya dengan bijaksana. Sebagai khalifah, manusia harus menjalankan peran ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, menjaga keseimbangan alam, menegakkan keadilan, dan memastikan kesejahteraan seluruh makhluk. Tanggung jawab ini menuntut manusia untuk senantiasa berpegang pada prinsip-prinsip akhlak yang mulia, seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.

Pemahaman yang mendalam tentang konsep penciptaan, tujuan hidup, dan peran sebagai khalifah memberikan landasan yang kuat bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan bermanfaat. Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai ini sejak dini, membentuk individu yang berakhlak mulia dan siap menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

Dalam kehidupan modern, tantangan yang dihadapi oleh umat Islam semakin kompleks. Namun, dengan berpegang pada ajaran Islam yang benar dan memahami konsep manusia yang diajarkan dalam agama ini, umat Islam dapat menghadapi tantangan tersebut dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai Islam memberikan panduan yang jelas dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara kebutuhan duniawi dan spiritual, serta mendorong manusia untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Dengan demikian, pemahaman tentang penciptaan manusia, tujuan hidup, dan peran sebagai khalifah bukan hanya memberikan panduan bagi kehidupan individu, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang adil dan berkelanjutan. Artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang konsep manusia dalam Islam, serta menjadi referensi yang berguna dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman dan pengamalan yang tepat, umat Islam dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan selaras dengan tujuan penciptaan mereka sebagai manusia.

 

Refrensi :

Redaksi dalamislam. 2024. Proses Penciptaan Manusia menurut Islam. www.dalamislam.com Diakses pada tanggal 02 Juni 2024 melalui https://dalamislam.com/info-islami/proses-penciptaan-manusia

Berita Update. 2021. Tujuan Allah Menciptakan Manusia Menurut Al – Quran. www.kumparan.com Diakses pada tanggal 02 Juni 2024 melalui https://kumparan.com/berita-update/tujuan-allah-menciptakan-manusia-menurut-al-quran-1vhKJJLVYLR/full

Hanif Hawari. 2023. Tujuan Allah Menciptakan Manusia, Diceritakan dalam Al – Quran. www.detik.com Diakses pada tanggal 02 Juni 2024 melalui https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7106062/tujuan-allah-menciptakan-manusia-diceritakan-dalam-al-quran

Farid, M. Alwi. "Manusia sebagai Khalifah dalam Perspektif Islam." Jurnal Al-Mawarid, vol. 17, no. 1, 2018, pp. 1-15. Neliti, https://media.neliti.com/media/publications/285121-manusia-sebagai-khalifah-dalam-persfekti-a463de5e.pdf. Diakses pada tanggal  02 Juni 2024.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penciptaan Manusia Menurut Perspektif Islam

Penciptaan Manusia Menurut Perspektif Islam Muhammad Efan, Ismail Akbar Brahma Sistem informasi, Universitas Gunadarma efannafe704@gma...